LATAR BELAKANG
Profesi perawat menggunakan proses keperawatan (nursing process)
sebagai kerangka pikir dan kerangka kerja dalam merawat pasien.
Keperawatan sebagai proses, diperkenalkan sejak tahun 1955 oleh Hall dan
pada tahun 2004 proses keperawatan (nursing process) ditetapkan sebagai series of steps oleh
ANA (American Nursing Association) (Wilkinson, 2007), yang terdiri dari
pengkajian, penetapan diagnosa, perencanaan hasil, perencanaan
intervensi, implementasi dan evaluasi.
Pada
prakteknya, perawat sering mengalami kesulitan dalam melaksanakan asuhan
keperawatan. Hasil diskusi dengan beberapa perawat baik perawat klinik
atau pengajar, didapatkan informasi bahwa sering sekali perawat
kesulitan dalam hal menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat bagi
pasien. Pada kasus yang lain, data mungkin dikumpulkan tanpa menyadari
mengenai ‘apa diagnosanya’ (Lunney, 2008).
Perawat mungkin juga mengumpulkan data yang mempunyai relevansi yang
rendah dengan diagnosa keperawatan tertentu. Penelitian menunjukkan
bahwa rendahnya keakuratan dalam diagnosa keperawatan berkaitan dengan
banyaknya jumlah data yang relevansinya rendah (Lunney, 2008).
Diagnosa
keperawatan yang dianggap paling sering beredar antara lain ‘Gangguan
pemenuhan kebutuhan sehari hari’. Suatu diagnosa keperawatan yang tidak
dapat dirujuk sumbernya ke dalam daftar diagnosa menurut taxonomi NANDA
2012. Diagnosa keperawatan yang lain adalah ‘Gangguan persepsi sensori:
Halusinasi’ suatu diagnosa yang penulisannya pun tidak tepat menurut
taksonomi NANDA 2009. Informasi ini menunjukkan bahwa perawat sendiri
tidak memahami bahwa diagnosa tersebut mungkin tidak ‘exist’ dalam ilmu
keperawatan atau perawat tidak menyadari telah keliru dalam
melabelkannya.
Ketidakmampuan
memunculkan diagnosa keperawatan akan berimbas kepada ketidakmampuan
dalam menentukan tujuan dan juga merancang intervensi. Tanpa rancangan
intervensi yang jelas, maka aktifitas perawat tidak akan terlihat
bermakna baik bagi klien, tenaga kesehatan yang lain ataupun bagi
perawat sendiri.
Hasil
workshop NNN dan aplikasi NANDA yang dilaksanakan di berbagai daerah di
Indonesia (Medan 14-15 Mei 2012, Bengkulu 16 Mei 2012 dan Jakarta 17 Mei
2012) menunjukkan bahwa sebagian besar perawat tidak familiar dengan
‘bunyi’ diagnosa keperawatan. Ketidak-’familiar’-an ini menunjukkan
bahwa perawat belum betul betul menguasai keilmuannya sendiri. Hal ini
yang mungkin menyebabkan perawat kehilangan jati dirinya, tidak
menemukan ‘ruh’ keilmuan keperawatan dan pada akhirnya tidak mampu
menunjukkan bahwa perawat adalah salah satu anggota tim kesehatan yang
sangat penting dan dibutuhkan.
Tim
kesehatan layaknya adalah sebuah tim sepak bola. Setiap pemain mempunyai
posisi dan tugas sendiri sendiri. Apabila salah satu anggota tim tidak
bisa menyebutkan apa tugasnya, dan apa saja yang akan dilakukannya, maka
anggota tim ini akan diberikan tugas lain yang tidak berkaitan dengan
perannya dalam tim sepak bola tersebut, atau bahkan di tempatkan di luar
lapangan dan diminta menyiapkan minum atau handuk bagi pemain lain atau
bahkan mengambilkan bola yang terlempar keluar (Pearson, et. al, 2005).
Seperti itukah posisi perawat saat ini dalam tim kesehatan?
Salah
satu contoh diagnosa keperawatan yang sebagian besar perawat tidak
familiar adalah diagnosa ‘Risk for Relocation Stress Syndrome’. Ini
adalah diagnosa keperawatan yang terdapat dalam daftar dignosa
keperawatan taxonomi NANDA (2005-2012) yang hanya akan muncul pada
situasi dimana seseorang mengalami proses perpindahan (masuk ke bangsal,
pindah bangsal, contohnya). Situasi ini selalu ada pada saat pasien
masuk rumah sakit, tetapi apakah perawat berinisiatif mengkaji untuk
melihat apakah diagnosa ini dialami atau tidak oleh pasien? Apakah
perawat menyadari adanya ‘kemungkinan’ diagnosa ini? Atau apakah perawat
pernah mendengar ‘bunyi’ diagnosa ini? Atau pernahkan perawat mendengar
bunyi diagnosa yang lain misalnya ‘Sedentary life style’? jika belum
pernah sama sekali, mungkin perawat perlu menyadari bahwa ternyata
pengetahuan perawat mengenai diagnosa keperawatan perlu ditingkatkan.
Bagaimana
dengan petugas kesehatan yang lain? Dokter misalnya? Pada dasarnya,
dokter juga melakukan pengkajian dan menentukan diagnosa medis.
Sepengetahuan penulis, setiap dokter familiar dengan kemungkinan ‘label’
diagnosa medis yang ada pada pasien, contohnya ‘appendicitis’. Atau
apabila dokter perlu mencari rujukan apa diagnosa medis nya maka dokter
memiliki ‘kitab’ khusus antara lain ICD (International Classification of
Disease).
Apakah
perawat perlu juga memiliki kitab yang sama dengan dokter? Beberapa
‘kitab’ telah disediakan bagi perawat, tetapi tidak semua perawat
menyetujui menggunakan ‘kitab’ tersebut, contoh kitab tersebut adalah
taxonomy NANDA 2012 (Herdman, 2012). Mengapa memilih taxonomy NANDA?
Jawabannya telah disediakan oleh Muller et al (2007) melalui analisis
perbandingan yang dilakukan olehnya dan beberapa anggota peneliti lain,
yang menyimpulkan bahwa ‘The international literature and
the opinion of Swiss expert nurses indicate that—from the perspective of
classifying comprehensive nursing diagnoses—NANDA should be recommended
for nursing practice and electronic’ (Muller et al, 2007).
Sayangnya,
mungkin bahkan banyak perawat yang tidak tahu bahwa mereka punya
‘kitab’ yang bisa menjadi rujukan. Sehingga muncullah ‘karang mengarang’
‘bunyi’ diagnosa keperawatan. Tentu saja tidak masalah, karena
‘mengarang’ adalah hak asasi manusia. Tetapi menjadi tidak berdasar jika
tidak dilakukan secara ilmiah. Akan lebih parah lagi apabila diikuti
dengan ‘pengeyelan’ (tidak menerima kebenaran padahal sudah jelas
kebenarannya) tanpa kesediaan untuk mengecek referensi. Jadilah profesi
perawat semakin terpuruk dan bahkan timbul debat yang tidak ilmiah
karena tidak menggunakan referensi yang jelas.
Kemampuan
menentukan diagnosa keperawatan pada akhirnya menjadi langkah awal yang
sangat penting bagi perawat, karena akan mempengaruhi langkah
selanjutnya dalam proses keperawatan. Proses dimana perawat sampai pada
diagnosis dianggap sebagai suatu proses yang kompleks dan dilihat dengan
cara berbeda-beda oleh berbagai ahli (Jones, 1988).Literatur
bahkan menunjukkan adanya penggunaan terminologi yang berbeda untuk
merujuk kepada proses ini antara lain ‘diagnostic reasoning’, ‘clinical
judgment’, dan‘clinical decision making’ (Lee et al., 2006). Untuk tidak membingungkan diri dengan istilah, penulis menggunakan istilah ‘Diagnostic reasoning’ dalam artikel ini.
DIAGNOSTIC REASONING
‘Diagnostic
reasoning’ merupakan elemen penting dalam usaha untuk mengidentifikasi
masalah yang dialami klien dalam praktek keperawatan (King, 2006).
Penelitian baru baru ini menunjukkan bahwa professionalisme perawat
bertumpu pada kemampuan perawat untuk menetapkan diagnosa secara akurat (Cholowski and Chan, 1992).
‘Diagnostic reasoning’ didefinisikan sebagai ‘a
component of clinical decision-making and involves the recognition of
cues and analysis of data in clinical situations. This reasoning will
eventually come to some diagnostic labels by analysing the cues, and the
process varies as a function of task complexity’(Wong and Chung, 2002).
Berdasarkan
definisi tersebut dapat dimengerti bahwa pengenalan terhadap tanda dan
gejala (batasan karakteristik dalam taxonomi NANDA) merupakan hal yang
sangat penting bagi perawat. Selain itu proses ini pada akhirnya akan
memunculkan beberapa label diagnosa, yang menunjukkan bahwa perawat pun
akan berhadapan dengan ‘diagnosa banding’ yang merupakan kumpulan
diagnosa lain yang mungkin juga dialami klien. Kemampuan
mengidentifikasi ‘diagnosa banding’ merupakan proses yang sangat penting
dalam ‘diagnostic reasoning’ (Westfall et al., 1986).
Proses yang selama ini di lakukan untuk menetapkan diagnosa keperawatan umumnya adalah berdasarkan seperti tabel di bawah ini
|
Data
|
Diagnosa keperawatan
|
|
DS: ….
DO: ….
|
Diagnosa keperawatan: …………………..
|
Tentu
saja secara prinsip apa yang ada dalam tabel tersebut adalah proses yang
benar. Tetapi apakah sesederhana itu? Tentunya tidak.
Penentuan
diagnosa keperawatan, bagaimanapun lebih sulit dan kompleks daripada
penentuan diagnosa medis. Hal ini dikarenakan data dari hasil pengkajian
tidak selalu menjadi data batasan karakteristik (S) dalam format PES
pada diagnosa keperawatan, tetapi juga bisa menjadi etiologi (E pada
format PES). Data ini bahkan bisa berfungsi sebagai label diagnosa itu
sendiri, misalnya ‘Fear’atau ‘Anxiety’(Herdman, 2012).
Proses
untuk sampai kepada diagnosa menjadi lebih rumit pada saat kita
menyadari bahwa tanda dan gejala tersebut mungkin juga menjadi ‘milik’
‘collaborative problems’. ‘Collaborative problem’ di definisikan
sebagai:
“Certain physiologic
complications that nurses monitor to detect onset or changes in status.
Nurses manage collaborative problems using physician-prescribed and
nursing-prescribed intervention to minimize the complications of the
events.”(Carpenito, 2008).
‘Collaborative problem’ adalah bagian dari teori ‘The Bifocal Clinical Practice Model’(Carpenito, 2006, Carpenito, 2008).
Dalam teori ini, perawat perlu mengatasi bukan hanya masalah
keperawatan tetapi juga masalah kolaboratif. Masalah kolaboratif dimulai
dengan istilah ‘Potensial Komplikasi (PK)’ (Carpenito, 2006, Carpenito, 2008). Woolley (1990)juga
memiliki opini yang sama terkait dengan masalah kolaboratif dan
menyebutkan bahwa perawat perlu membuat keputusan klinik yang akurat dan
tepat terkait dengan perubahan patofisiologi pada status kesehatan
klien.
Telah
diketahui bahwa tanda dan gejala yang didapatkan dalam pengkajian dapat
menjadi ‘milik’ diagnosa keperawatan atau masalah kolaboratif. Tetapi
kenyataan ini tampak tidak terlalu diperhatikan dalam proses ‘diagnostic
reasoning’. Referensi yang ada biasanya juga memisahkan dua hal ini,
contohnya Carpenito (2006, Carpenito, 2008) adalah referensi yang mengeksplorasi diagnosa keperawatan dan diagnosa kolaborasi dalam dua topik pembahasan yang berbeda.
Melalui
penelaahaan dan pengkategorian semua tanda dan gejala dalam taksonomi
NANDA (Herdman 2012) dan juga mengenai masalah kolaboratif yang
digambarkan oleh Carpenito (2006), penulis menemukan bahwa tanda dan gejala dalam proses pengkajian dapat menghasilkan tiga kesimpulan:
- Memunculkan diagnosa potensial komplikasi (masalah kolaboratif)
- Memunculkan diagnosa keperawatan
- Memunculkan baik diagnosa keperawatan dan diagnosa potensial komplikasi (Nurjannah, 2010b).
Kenyataan
pembagian data tersebut sangat penting sekali diketahui perawat. Salah
satu contoh kegunaan pengetahuan ini adalah apabila perawat tahu data
mana saja yang hanya akan memunculkan diagnosa potensial komplikasi,
maka perawat perlu menyampaikan data ini pada dokter sebagai petugas
kesehatan professional yang ikut berkepentingan terhadap ‘data’ ini. Hal
ini dikarenakan diagnosa potensial komplikasi merupakan ‘grey area’
dimana perawat bersentuhan dengan medis. Tim medis akan melihat seorang
perawat cakap apabila perawat mampu dalam hal diagnosa potensial
komplikasi. Tentunya ini berbeda dengan diagnosa keperawatan yang betul
betul milik perawat dan intervensinya pun mandiri oleh perawat.
Kenyataan
dimana tanda dan gejala dapat menjadi ‘milik’ diagnosa keperawatan dan
kolaboratif yang berbeda membuat kondisi lebih sulit lagi untuk dapat
menjadi yakin mengenai apakah kemungkinan diagnosa keperawatan atau
masalah kolaborasi telah dapat diidentifikasi dengan akurat. Ini
dikarenakan proses untuk menentukan diagnosa keperawatan atau diagnosa
kolaborasi menjadi lebih panjang dan rumit. Proses ini mungkin lebih
tepat dilakukan oleh seorang lulusan S1 dari pada perawat D3. Tetapi
untuk membuktikannya perlu dilakukan penelitian dan kajian lebih lanjut.
Salah
satu contoh data yang posisinya berada di banyak diagnosa keperawatan
adalah data ‘tekanan darah’ yang dapat ditemukan dalam diagnosa
keperawatan ‘Activity intolerance’, ‘Anxiety’, ‘Decreased Cardiac Output’, ‘Fear’, ‘Deficient Fluid Volume’, ‘Excess Fluid Volume’, ‘Acute Pain’, ‘Ineffective Tissue Perfusion’ and ‘Dysfunctional ventilator weaning response’(Herdman, 2012).
Kenyataan ini menunjukkan adanya diagnosa banding yang perlu dicermati
oleh perawat meskipun hanya dengan satu tanda atau gejala saja. Dalam
proses ‘diagnostic reasoning’ dalam keperawatan, mengidentifikasi kemungkinan diagnosa (possible diagnoses) merupakan bagian penting dari proses ‘diagnostic reasoning’ (Westfall et al., 1986).
Informasi
mengenai kemungkinan apa diagnosa keperawatan dan masalah kolaborasinya
perlu di sadari oleh perawat sehingga akan memunculkan proses berpikir
lebih lanjut untuk dapat mengkonfirmasi atau menganulir berbagai
kemungkinan diagnosa tersebut melalui pengkajian fokus.
Lunney (2012)
menyebutkan bahwa pengetahuan mengenai diagnosa, definisinya dan
batasan karakteristiknya (gejala dan tanda) merupakan pengetahuan yang
sangat luas dan kompleks, dan hampir tidak mungkin bagi perawat untuk
mengingat semua informasi yang ada, sehingga beliau menyarankan agar
perawat perlu tahu bagaimana mengakses informasi yang diperlukan
tersebut. Kemampuan untuk menemukan informasi yang relevan ini menjadi
suatu hal yang penting karena akan mendukung kemampuan dalam menentukan
diagnosa (Harjai and Tiwari, 2009).
ISDA
(Intans’s Screening Diagnoses Assessment) dapat dipertimbangkan sebagai
sarana untuk mengakses informasi tersebut dan memberikan petunjuk
kemungkinan diagnosa keperawatan atau diagnosa potensial komplikasi yang
mungkin terdapat pada klien. ISDA juga lebih komprehensif karena tidak
hanya menskreening diagnosa keperawatan tetapi juga menskreening
diagnosa potensial komplikasi (Nurjannah, 2010b).
Beberapa pengarang membagi proses ‘diagnostic reasoning’ ke dalam beberapa tahap, Carnevali (1984) menyebutkan tujuh tahap, Elstein and associates (1972) cited in Westfall (1986) menggunakan 4 tahap, sementara Lunney (2012)
menggunakan lima tahap serta Wilkinson (2007) menyebutkan 4 urutan
untuk sampai mencapai menuliskan diagnosa. Tahap tahap itu dapat dilihat
di tabel berikut ini:
Carnevali (1984)
|
|||
| Elstein and associates (1972, 1978) cited in Westfall et al. (1986) |
|
| (Lunney, 2012) |
|
| Wilkinson (2007) |
Level II: Cluster cues and identify data Level III: Draw conclusion about present health status Level IV: Determine etiologies and categorize problems 2. Verify 3. Labe 4. Record |
Semua
tahap melibatkan pengkajian awal untuk mengumpulkan data awal,
menetapkan kemungkinan diagnose didasarkan pada data awal, mengkaji data
kembali dengan pengkajian fokus untuk menetapkan atau menganulir ‘possible diagnoses’ dan kemudian menetapkan diagnosa.
Penulis
menemukan bahwa beberapa tahap dalam model ‘Diagnostic reasoning’
tersebut sulit diikuti atau dimengerti oleh penulis. Selain itu masih
adanya ‘pengandalan’ pada ‘long term memory’ pada model ‘Diagnostic
reasoning’ baik Carvaneli (1984) – 7 tahap/langkah, dan Lunney (2012) – 5
tahap/langkah, yang tentu saja tidak mungkin optimal karena banyaknya
data yang harus di ingat oleh perawat. Pada model ‘Diagnostic
reasoning’ yang telah di susun oleh Wilkinson (2007) kesulitan yang
dialami oleh penulis adalah dalam hal mengklasifikasikan data dan
mengklaster data. Tidak adanya petunjuk untuk melakukan hal ini
menyebabkan proses ‘Diagnostic reasoning’ berbagai model tersebut tidak
memberikan kemudahan bagi penulis.
Karena itulah penulis kemudian membuat model ‘Diagnostic reasoning’ dengan melalui 6 tahap sebagai berikut:
1. Mengklasifikasikan data menggunakan ISDA, jika data tidak
didapatkan dalam ISDA bisa ditelusuri dengan menggunakan buku‘The Fast
Method of Formulating Nursing Diagnoses for Diagnostic Reasoning in
Nursing’2. Tetapkan kemungkinan diagnosa keperawatan atau diagnose kolaborasi
3. Baca/pelajari informasi tentang diagnose keperawatan/diagnosa kolaboratif terutama definisinya (menggunakan taksonomoni NANDA dan referensi yang membahas mengenai diagnose kolaborasi), tetapkan apakah diagnosa tersebut dikategorikan pada:
A. Dapat ditegakkan (confirmed
B. Dianulir (digugurkan/rule out)
C. Pending (Memerlukan pengkajian lanjutan dan tetapkan apa
pengkajian lanjutannya)
4. Menentukan kemungkinan diagnosa keperawatan dan hubungan antara satu diagnosa dengan diagnose yang lain (Menggunakan ‘The Map of Nursing Diagnoses’) pada diagnose keperawatan kategori A (telah ditegakkan), kegiatan no 4 ini dilakukan setiap diagnosa keperawatan telah ditetapkan (kategori A)
5. Menggunakan fokus pengkajian lanjutan jika diperlukan untuk memverifikasi diagnosa yang diagnosa yang ditetapkan sebelumnya (kategori A dan C) (Dapat menggunakan NANDA taxonomi dan referensi yang membahas diagnosa kolaborasi)
6. Label Diagnosa
Dalam
proses diagnostic reasoning menggunakan 6 tahap yang di susun oleh
penulis, salah satu alat untuk melakukan pengkajian adalah dengan
menggunakan ISDA. Tidak berhenti sampai mendapatkan diagnosa
keperawatan, metode ‘diagnostic reasoning’ 6 tahap ini juga mencari
hubungan satu diagnosa keperawatan dengan diagnosa keperawatan yang lain
dengan menggunakan poster ‘The Map of Nursing Diagnoses’. Proses ini
sangat penting karena setiap mendapatkan suatu diagnosa keperawatan yang
sudah pasti terdapat pada pasien, perawat perlu waspada bahwa diagnosa
keperawatan tersebut akan dapat menjadi penyebab (Etiologi (E) pada
format PES untuk diagnosa keperawatan yang lain atau menjadi Problem (P)
dalam format PES.
Metode 6 langkah tersebut dimasa depan mungkin juga akan dapat dipersingkat apabila ISDA semakin disempurnakan.
Workshop
NNN dan aplikasi ISDA yang dilaksanakan di berbagai daerah dimaksudkan
untuk memahamkan perawat dalam kemampuan ‘Diagnostic reasoning’
tersebut.
APAKAH ISDA?
ISDA adalah singkatan dari Intan’s Screening Diagnoses Assessment.
ISDA dirancang untuk membantu perawat menskrining semua kemungkinan
diagnosa keperawatan dan masalah kolaborasi. ISDA diciptakan berdasarkan
pemahaman mengenai data yang bisa menjadi ‘milik’ diagnosa keperawatan,
diagnosa kolaboratif atau baik diagnosa keperawatan dan diagnosa
kolaboratif (Nurjannah, 2010b).
Tanda
dan gejala bagaimanapun bukan hanya salah satu cara untuk menentukan
kemungkinan diagnosa keperawatan dan masalah kolaborasi. Dalam
penyusunan ISDA, pehamanan mengenai definisi diagnosa dipertimbangkan
sebagai suatu cara pertama untuk menskreening diagnosa keperawatan. Hal
ini dikarenakan definisi dari suatu diagnosa keperawatan dapat langsung
mengarahkan pada diagnosa tertentu meskipun tidak mempertimbangkan tanda
dan gejala. Contohnya adalah diagnosa keperawatan: ‘Autonomic
Dysreflexia’ (Nurjannah, 2010b). Diagnosa ini hanya dialami oleh pasien yang mengalami injury spinal di T7 atau di atas T7 (Herdman, 2012).
Meskipun ‘paroxysmal hypertension’ adalah salah satu tanda dan gejala
dalam diagnosa keperawatan ini, tanda ini menjadi tidak penting untuk
diagnosa ini apabila pasien tidak mengalami cedera di ‘spinal cord’ di
T7 atau di atas T7. Pemahaman definisi masing masing diagnosa
keperawatan kemudian menjadi dasar utama mendesain ISDA. Tetapi tidak
semua definisi diagnosa dengan jelas dapat mengarahkan diagnosa
keperawatan tertentu. Dalam kondisi ini, tanda dan gejala kemudian
menjadi pertimbangan untuk menentukan diagnosa keperawatan. ISDA juga
mempertimbangkan aktifitas rutin perawat misalnya pengukuran tekanan
darah sebagai pengkajian yang penting dalam ISDA (Nurjannah, 2010b). Hasil pengukuran tanda vital di tempatkan dalam screening pengkajian dalam ISDA (Nurjannah, 2010b).
Meskipun
ISDA ditujukan untuk membantu perawat untuk mengkaji pasien dalam
rangka menskreening kemungkinan diagnosa keperawatan dan masalah
kolaboratif, perawat perlu mengingat bahwa ISDA tidak ditujukan untuk
menentukan apakah diagnosa keperawatan dan masalah kolaboratif tersebut
pasti terdapat pada pasien. ISDA hanya di desain untuk membantu
memberikan petunjuk kemungkinan diagnosa keperawatan dan masalah
kolaboratif apa yang ada pada pasien. Perawat perlu merujuk referensi
lain untuk bisa melanjutkan pengkajian fokus untuk ‘menganulir’ atau
‘memastikan’ apakah diagnosa tersebut memang terdapat pada pasien atau
tidak.
Terdapat tujuh belas sequence/urutan dalam ISDA:’assessment
for vital signs; safety; specific circumstance; body function;
psychology; cognitive, perception and sensory; spiritual, values and
religious; behaviour; sexuality; social; infant/child; caregiver,
community and family; support systems/resources and environment; risk
diagnoses; health promotion diagnoses; data belonging to collaborative
and nursing diagnoses; data belonging only to collaborative problems (Nurjannah, 2010a, Nurjannah, 2012).
Sekilas ISDA dapat dilihat di:
Intansari Nurjannahhttp://www.keperawatan.ugm.ac.id/berita-psik-fk-ugm/13-berita-psik-fk-ugm/7-intans-screening-diagnoses-assesment-isda.html
PERJALANAN ISDA: intansarinurjannah.wordpress.com/2012/05/09/perjalanan-isda/
|
Petunjuk penulisan referensi (Harvard Style)
NURJANNAH, I. 2012. ‘Diagnostic Reasoning’ dalam proses keperawatan [Online]. Yogyakarta. Available: http://www.keperawatan.ugm.ac.id [Accessed tuliskan tanggal dan tahun anda mengaksesnya].
|
Daftar Pustaka
CARNEVALI, D., L 1984. The diagnostic reasoning process. In: CARNEVALI, D., L, MITCHELL, P., H, WOODS, N., F & TANNER, C., A (eds.) Diagnostic reasoning in nursing. Philadelphia: PA: Lippincott.
ARPENITO, L., J, M (ed.) 2006. Nursing Diagnosis Application to Clinical Practice, Philadelphia: Lippincott Williams & WIlkins.
ARPENITO, L., J, M 2008. Nursing Diagnoses Application to Clinical Practice, United States of America, Lippincot Williams & Wilkins.
CHOLOWSKI, K., M & CHAN, L., K,S 1992. Diagnostic reasoning among second-year nursing students. Journal of Advanced Nursing, 17, 1171-1181.
HARJAI, P. K. & TIWARI, R. 2009. Model of Critical Diagnostic Reasoning: Achieving Expert Clinician Performance. Nursing Education Perspectives, 30, 305-311.
HERDMAN, T., H (ed.) 2012. NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions & Classification, 2012 – 2014: Oxford: Wiley-Blackwell.
JONES, J., A 1988. Clinical reasoning in nursing. Journal of Advanced Nursing, 13, 185-192.
KING, P. L. 2006. A consideration of diagnostic reasoning skills in nurse practitioners-measures and influences. Ph.D., University of Louisville.
LEE, J., CHAN, A. C. M. & PHILLIPS, D. R. 2006. Diagnostic practise in nursing: A critical review of the literature. Nursing & Health Sciences, 8, 57-65.
LUNNEY, M. 2008. Critical Needs to Address Accuracy of Nurses’ Diagnoses. The Online Journal of Issues in Nursing, 13, 1-13.
LUNNEY, M. 2012. Nursing assesment, clinical judgment, and nursing diagnoses: how to determine accurate diagnoses. In: HERDMAN, T., H (ed.) NANDA International Nursing Diagnoses: Definition & Classification, 2012 – 2014. Blackwell Publishing Ltd.
MULLER,
M, LAVIN, M, A, NEEDHAM, I, ACHTERBERG, T. 2007. Meeting the criteria
of a nursing diagnosis clasification: Evaluation of ICNP, ICF, NANDA and
ZEFP. Internationa Journal of Nursing Studies, 44, 702-713
NURJANNAH, I. 2010a. ISDA Intan’s Screening Diagnoses Assessment, Yogyakarta, Mocomedia.
NURJANNAH, I. 2010b. Proses Keperawatan NANDA, NOC dan NIC, Yogyakarta, Mocomedia.
NURJANNAH, I. 2012. Intan’s Screening Diagnoses Assessment (ISDA) [Online]. Yogyakarta: Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM. Available: http://keperawatan.ugm.ac.id/berita-psik-fk-ugm/13-berita-psik-fk-ugm/7-intans-screening-diagnoses-assesment-isda.html [Accessed 16 April 2012].
PEARSON, A., VAUGHAN, B.,FITZGERALD, M. (2005). Nursing Models for Practice. 3rd. Elsevier’
WESTFALL,
U., E, TANNER, C., A, PUTZIER, D. & PADRICK, K., P 1986. Activating
clinical inferences: A component of Diagnostic reasoning in Nursing. Research in Nursing & Health, 9, 269-277.
WILKINSON, J., M 2007. Nursing Process and Critical Thinking, New Jersey, Pearson Education.
WONG,
K., S, T & CHUNG, W., Y, J 2002. Diagnostic reasoning process using
patient simulation in different learning environments. Journal of Clinical Nursing, 11, 65-72.
WOOLLEY, N. 1990. Nursing diagnosis: exploring the factors which may influence the reasoning process. Journal of Advanced Nursing, 15, 110-117.
















